Beberapa hari sebelum Embah kakung Sastrodarsono seda, pohon nangka di pojok halaman depan rumah setenan roboh. Tidak sekejap pun saya menduga bahwa itu adalah sebuah sasmita, sebuah pernyataan tanda. Yaitu, tanda yang dikirim oleh Allah Subhannahu Wa taala untuk dibaca sebagai peringatan bahwa seorang besar dan banyak berjasa serta sangat dicintai oleh banyak orang, akan dipanggil kembali ke rahmatullah. Saya tidak dapat menangkap sasmita itu karena saya ada lah orang yang buta huruf sasmita dan tanda-tanda Allah. Saya adalah orang dungu yang hanya terpesona oleh tanda-tanda dan sasmita benda-benda keduniawian yang selalusaya kira membahagiaan saya. Barulah waktu Allah SWT mengirimkan lagi sasmita-NYA lewat Embah Kakung yang memerintahkan untuk membagi-bagi pohon nangka yang roboh itu kepada siapa saja yang membutuhkannya, saya mulai paham makna sasmita Allah itu. Embah Kakung ingin pamit berjalan ke Rahmatullah dengan membagi warisan yang berupa semangat kerukunan dan persaudaraan kepada anak dan cucu serta cicitnya. Embah Kakung tidak meninggalkan atau mewariskan benda-benda keduniawian yang kemilau yang banyak disuga orang akan dapat membanggakan keluarga besar ini. Embah kakung ternyata tidak pernah melihat benda-benda keduniawian itu sebagai yang terpenting bagi anak, cucu, dan cicitnya. Beliau menganggap semangat kerukunan dan persaudaraan itulah yang terpenting bagi keturunannya, bagi masyarakat, karena semangat itulah yang akan terus mampu membuat kita tumbuh dengan sebaik-baiknya sebagai masyarakat yang melaksanakan tugas Allah di dunia fana ini.
Embah kakung mulai perjalanan jauhnya meniti tangga apa yang disebut sebagai tangga priyayi sekian tahun yang silam. Perjalanan itu dimulainya waktu beliau menyelesaikan pendidikannya sebagai seorang guru Bantu sekolah desa dan mulai bekerja sebagai guru Bantu di desa Karangdompol. Desa itu tidak jauh dari makam ini, di seberang kali Madiun. Dari situlah Embah Kakung mulai menanam bibit-bibit pertama dari keluarga besar ini. Seperti juga pohon nangka yang baru roboh itu, Embah Kakung ingin melihat keluarga besar ini tumbuh kukuh, kuat, dan berisi galih, lapisan kayu yang paling dalam dank eras. Adapun galih, bagian kayu yang paling keras yang ingin beliau kembangkan dan tumbuhkan itu adalah semangat, nilai mengabdi dari priyayi kepada orang banyak, kepada masyarakat luas. Sebagai keturunan petani desa, beliau ingin memulai usaha untuk ikut mengisi dan memberi bentuk sosok semangat priyayi itu suatu kerja raksasa yang selama ini hanya boleh dikerjakan oleh mereka yang digarap berdarah biru. Embah kakung ingin ikut memberi warna kepada mosaic semangat itu dengan menitikberatkan perluasan kemungkinan pendidikan wong cilik agar kelak wong cilik itu ikut pula menentukan warna semangat priyayi itu.
Adapun warna semangat itu bukanlah terutama warna halus, luwes, elegan, dari filsafat rumit seperti yang banyak disangka orang, bahkan oleh kaum priyayi sendiri. Warna semangat itu adalah warna pengabdian kepada masyarakat banyak, terutama kepada wong cilik, tanpa pamrih kecuali berhasilnya pengabdian itu sendiri. Warna itu adalah warna semangat kerakyatan. Itulah galih yang ingin ditumbuhkan oleh Embah kakung dalam keluarga besarnya dalam semangat kerukunan dan persaudaraan.
Saya dipilih oleh keluarga besar Sastrodarsono untuk mengenang darma Embah Sastrodarsono dan menyampaikan salam selamat jalan kepada belaiau yang pada hari ini akan memulai perjalanan jauhnya yang kedua. Perjalanan jauh yang tidak seorang pun dari kita yang hadir di sini dapat membayangkannya karena perjalanan itu bukan lagi berada jangkauan imaji kita. Kita hanya bias mendoakan dari sini agar perjalanan jauh Embah Kakung dapat lebih berhasil lagi dari perjalanan jauhnya yang dilakukan di dunia fana ini. Saya dipilih, karena keluarga besar ini telah berjalan hingga generasi cucu, untuk mewakili keturunan muda menyampaikan pemahaman kami tentang darma Embah Kakung. Saya telah mencoba menyampaikan pemahaman saya tentang darma Embah kakung semasa hidupnya. Yaitu, menanam penerjemahan semangat priyayi sebagai semangat pengabdian kepada masyarakat wong cilik.
Maafkanlah bila saya salah dan khilaf menyampaikan pemahaman makna darma dari orang yang sangat kami cintai dan hormati ini. Angkatan kami adalah angkatan yang dibesarkan oleh berbagai tanda perubahan zaman. Kemelut demi kemelut, bahkan hingga hari ini, silih berganti menempa kami untuk arif mambaca sasmita, tanda-tanda yang dipancarkan oleh Allah SWT. Pelajaran membaca sasmita itu alangkah sulitnya. Namun demikian, pelajaran itu tidak berhenti karena ia adalah semacam perjalanan juga. Tidak ada lain jalan, kecuali harus meneruskannya. Marilah kakak-kakak, adik-adik, dan para keponakan kita lanjutkan perjalanan ini dengan penuh keberanian dan ketabahan. Perjalanan mengabdi masyarakat banyak, terutama wong cilik, tidak akan ada habisnya
( Umar Kayam,